Wednesday, February 1, 2012

peran perempuan dalam keluarga

PERAN  PEREMPUAN  DALAM  PERILAKU KESEHATAN KELUARGA
BERBASIS LINGKUNGAN DI PEDESAAN*


Yunindyawati**
I363100011/SPD/S3/2010

A.    LATAR BELAKANG
Membicarakan persoalan perempuan dari waktu ke waktu semakin menarik karena keberadaannya selalu dikaitkan dengan laki-laki. Perempuan berbeda dari laki-laki, dan karena perbedaan ini maka ia menjadi “penanda” bagi konsep laki-laki begitu pula sebaliknya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Derrida bahwa kata dan konsep mendapatkan makna hanya dalam referensi relasional dengan kata-kata dan penanda lain yang menjelaskan makna secara berbeda dari mereka (Agger: 2009).
Secara bahasa, perbedaan ini bisa dijelaskan oleh Derrida yang menyatakan bahwa   tidak ada bahasa baik secara lisan maupun tertulis yang secara sempurna menjadi sarana transparan untuk menjelaskan makna. Justru bahasa membuat dikotomi, berdasar atas dikotomi umum antara “kehadiran” (presence) dengan keberubahan (alteraty) yang menyederhanakan kompleksitas realitas dan menyembunyikan hirarki yang suci. Ketika orang mengajukan dikotomi jernih ini, mereka mendefinisikan keberubahan dalam konteks kehadiran sehingga mensubordinasikan keberubahan meskipun secara sembunyi-sembunyi. Misalnya dikotomi maskulinitas/feminitas mendefinisikan keperempuanan dalam konteks perbedaanyan dengan (keberubahan terhadap) kelelakian yang selanjutnya menjadi terminology utama. Perempuan bukan laki-laki, bukan hanya berbeda dan tersubordinasi oleh laki-laki namun mereka diturunkan dari laki-laki (Agger, 2009: 115).
Dalam budaya patriarkhi, laki-laki bersifat dominan terhadap perempuan yang berarti bahwa perbedaan gender cenderung dicirikan bukan hanya perbedaannya tetapi dari ketidakseimbangannya (Lorber dalam Agger, 2009). Dengan melakukan dekonstruksi makna yang berbeda atas istilah laki-laki dan perempuan dapat diungkap distribusi dan relasi yang berbeda dalam kekuasaan antara posisi subjek yang berbeda (laki-laki dan perempuan).
Berbagai studi tentang perempuan menunjukkan bahwa faktanya dalam berbagai aspek kehidupan perempuan memang selalu tertinggal, tersubordinasi, termarjinalisasi dan mengalami ketimpangan serta kesenjangan  dalam hubungannya dengan laki-laki. Sebagai contoh kesenjangan dialami perempuan di bidang ketenagakerjaan yang bisa diamati melalui tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) data tahun 1990-2007, perempuan mengalami kesenjangan terhadap laki-laki. Begitu juga menyangkut upah yang diterima terjadi kesenjangan gender dalam hal upah dimana rasio upah yang diterima perempuan yang bekerja di sector pertanian adalah 50% lebih rendah dari laki-laki dan 70 % untuk pekerjaan di sector non pertanian, data tahun 2001-2004. Di bidang pendidikan  angka partisipasi murni  (APM) tahun 2008, menunjukkan bahwa rataan nasional tahun lama sekolah pada anak perempuan adalah 7,1 tahun dan 8,0 tahun pada anak laki-laki. Di bidang kesehatan, angka kematian ibu (AKI) meskipun telah mengalami penurunan dari tahun ke tahun tetapi tetap masih cukup tinggi yaitu 307/100.000 kelahiran (Vitalaya: 2010).
 Kenyataan tersebut menjadikan perempuan menjadi salah satu isu sentral bagi program pembangunan di banyak Negara terutama Negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Gerakan global untuk membahas dan mencari solusi ketidakadilan terhadap perempuan telah dilakukan sejak Dasawarsa PBB tahun 1976-1985. Tindak lanjutnya adalah pembentukan Mekanisme nasional kemajuan perempuan di tiap Negara penandatangan yang kemudian digunakan untuk memonitor dan memperjuangkan kesepakatan gerakan. Di tingkat internasional dilakukan konvensi wanita sedunia di Beijing, September tahun 1995 yang menghasilkan Beijing Platform for Action (BPFA), berisi 12 bidang kritis keprihatinan (critical point of concern) dalam upaya pencapaian kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan (Vitalaya: 2010)
Di Indonesia Inpres no 9 tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender (PUG) serta beragam perundang-undangan tentang perempuan serta komitmen terhadap kesepakatan internasional merupakan wujud kepedulian dan perhatian pemerintah terhadap perempuan. Berbagai program dilakukan demi mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Namun upaya mulia ini seringkali tidak bisa sampai sasaran dan tujuan,  bahkan justru menjadikan perempuan sebagai objek pembangunan. Seperti yang terjadi ketika paradigm pemberdayaan perempuan adalah WID (women in Development) yang melancarkan program dan kegiatan pembangunan hanya untuk perempuan dan tidak mencoba melihat relasinya dengan laki-laki. Oleh karenanya berkembang paradigm GAD (Gender and Development) yang berupaya memahami bagaimana relasi perempuan dan laki-laki, terutama subordinasi laki-laki terhadap perempuan.
Berbagai upaya yang dilakukan baik pemberdayaan perempuan maupun pembebasan perempuan dari subordinasi laki-laki akan menjadi tidak efektif ketika kaum perempuan sendiri belum memiliki pengetahuan, kekuasaan dan kesadaran untuk merubah diri mereka. Apalagi kondisi sosiokultural yang patriarchal membuat semakin sulit bagi perempuan untuk mendapatkan pengetahuan, kesadaran dan kekuasaan atas diri mereka sendiri. Salah satu bidang yang menjadi program pemerintah untuk meningkatkan harkat dan kesejahteraan perempuan adalah bidang kesehatan. Hal ini didasarkan pada fakta masih tingginya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia serta adanya kesenjangan gender yang ditunjukkan nilai GDI (gender related development index) lebih rendah dari HDI (human development index) dengan selisih index tertinggi hingga 0,0028 (Vitalaya: 2010).
Selain itu, Abdullah, (2001: 99) menyebutkan bahwa posisi perempuan dalam pelayanan reproduksi sangat lemah. Hal ini tampak dalam berbagai hal, seperti;
1. Kurangnya informasi yang dapat diakses oleh kaum perempuan dan tidak dimilikinya  keahlian menolong diri sendiri dalam kesehatan sehingga ketergantungan pada pihak lain sangat besar.
2. tidak memiliki jaringan social yang kuat yang memungkinkan perempuan mampu melakukan tawar menawar dalam berbagai tindakan yang merugikan.
3. lemahnya basis ekonomi perempuan yang menyebabkan ia tergantung pada pencari nafkah dan pada fasilitas kesehatan yang berkualitas rendah.
4. Lemahnya basis social  yang dapat digunakan sebagai sumber legitimasi keberadaannya.
Bidang kesehatan merupakan ranah kehidupan yang dikonstruksikan sebagai ruang perempuan. Peran perawatan dan pemeliharaan kesehatan keluarga sangat lekat dengan peran perempuan. Perempuan dianggap bertanggungjawab atas pemeliharaan kesehatan (menyiapkan makan sebagai upaya preventif) dan pemeliharaan orang sakit (sebagai upaya kuratif). Karenanya peran perempuan adalah peran reproduktif (berada pada ranah domestic).
Tulisan ini ingin melihat bagaimana peran perempuan dalam perilaku kesehatan keluarga berbasis lingkungan di wilayah pesisir dan masyarakat Pedalaman. Asumsinya jika masyarakat telah mengkonstruksikan perempuan dalam ranah domestic dan reproduktif untuk merawat anggota keluarga maka peran perempuan menjadi lebih besar. Besarnya peran perempuan dilihat dari keberhasilan menjaga kesehatan keluarga dengan melakukan upaya preventif maupun kuratif sehingga tercapai derajat kesehatan keluarga yang baik.

B.     RUMUSAN MASALAH
Secara universal, peran gender untuk perempuan dan laki-laki diklasifikasikan dalam tiga peran pokok yaitu peran reproduktif (domestik), peran produktif (publik) dan peran social (masyarakat). Peran reproduktif adalah peran yang dilakukan seseorang untuk melakukan kegiatan yang terkait dengan pemeliharaan sumber daya insane dan tugas kerumahtanggaan seperti menyiapkan makanan, mengumpulkan air, mencari kayu bakar, berbelanja, memelihara kesehatan dan gizi keluarga,  mengasuh dan mendidik anak. Peran produktif menyangkut pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan. Peran masyarakat terkait dengan kegiatan jasa dan partisipasi politik (Vitalaya: 2010).
Dalam sebuah organisasi keluarga, terdapat suami, istri dan anak. Masing-masing individu memiliki status dan peran yang dilekatkan dan dijalankan. Untuk mengatur hubungan antara mereka masuklah kelembagaan-kelembagaan dalam keluarga. Kelembagaan inilah yang akan mengatur interaksi dan hubungan antara anggota keluarga. Sebagai contoh kelembagaan perkawinan, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Kelembagan kesehatan dalam sebuah keluarga biasanya memuat nilai-nilai dan aturan main yang dijalankan untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit. Umumnya perempuan dan ibu diperankan sebagai actor yang bertanggungjawab atas kesehatan keluarga. Mulai dari penyediaan makanan sehat dan bergizi, serta pengobatan penyakit. Peran ini termasuk dalam kategori peran reproduktif.
Persoalan ini akan menjadi semakin menarik lagi ketika dikaitkan dengan kondisi sosiokultural dari dua wilayah yang secara ekologis memiliki perbedaan yaitu desa pesisir dan desa pedalaman. Kondisi ekologi yang berbeda bisa diasumsikan akan memberi kontribusi pada perbedaan sosio cultural dan peran perempuan pada masyarakatnya. Oleh karena itu tulisan ini mencoba melihat bagaimana peran perempuan dalam perilaku kesehatan keluarga di dua wilayah berbeda yakni wilayah pesisir dan pedalaman?

C.    KERANGKA KONSEPTUAL
Keluarga secara tradisional difahami sebagai sekelompok orang yang berhubungan satu sama lain melalui hubungan ikatan darah, perkawinan,  atau adopsi dan tinggal bersama, membentuk unit ekonomi dan melahirkan serta membesarkan anak. Keluarga secara kontemporer difahami sebagai hubungan dimana orang tinggal bersama dengan komitmen, membentuk unit ekonomi dan mengasuh anak, memiliki identitas yang melekat pada kelompok. Hubungan utama keluarga adalah antara suami-istri dan orangtua-anak.
Mengkaji fenomena keluarga dan komunitas perlu menggunakan pendekatan sosiologi. Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat, menyangkut interaksi social, struktur social, proses social, mobilitas social, pranata social, dan perkembangan masyarakat serta aspek lainnya. Untuk memahami masyarakat perlu melihat konteks historis pekembangan masyarakat itu sendiri, begitu pula ketika  memahami keluarga.
Secara historis, masyarakat berkembang dari fase masyarakat berburu dan meramu, masyarakat agraris, kemudian menuju masyarakat industry.  Pada setiap fase perkembangan masyarakat tersebut terdapat pula bentuk dan struktur keluarga yang dibangun. Seiiring perubahan fase perkembangan, terjadi juga perubahan bentuk dan struktur keluarga.
Interaksi social yang terjadi antara anggota individu dalam keluarga   menentukan  tipe/fase masyarakat. Perkembangan dan perubahan interaksi social  pada masing-masing masing-masing fase masyarakat, merupakan proses dinamis dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal keluarga. Factor internal keluarga lebih dilihat menggunakan pendekatan interaksi dan kearah psikologis. Sementara faktor eksternal   yang mempengaruhi keluarga antara lain; sistem ekonomi, sistem stratifikasi, sistem politik, sistem agama, sistem pendidikan, komunitas, dan sistem kekerabatan (Blood; 1972).
Studi keluarga menjadi menarik untuk dikaji karena secara sosiologis keluarga merupakan kelompok social yang khas dan unik. Berbeda dengan grup atau kelompok social lainnya keluarga merupakan organisasi yang didasarkan pada:
1.      hubungan darah
2.      intergenerasi
3.      anggotanya dihubungkan secara biologis/keturunan dan affinal (hokum perkawinan)
4.      aspek biologis dan affinal menghubungkan dengan keluarga yang lebih luas
Secara umum yang membedakan dengan organisasi social dan kelompok social adalah derajat hubungannya. Keluarga memiliki keintiman hubungan yang tidak terdapat pada hubungan social lainnya. Berbicara keluarga juga mebicarakan kelembagaan (norma budaya).
Melihat fenomena keluarga bisa dikaji berdasarkan level analisisnya, yakni makroskopik maupun mikroskopik (White dan Klein; 1996). Secara makroskopik aspek yang dilihat meliputi:
1.      hubungan keluarga dengan institusi yang lebih luas
2.      membandingkan keluarga dengan beragam budaya
3.      struktur keluarga dari masa ke masa (periode sejarah)
Secara  mikroskopik aspek yang dillihat antara lain;
1.      individu anggota keluarga
2.      hubungan personal antar anggota keluarga
3.      keluarga dalam suatu budaya atau masyarakat
4.      keluarga dalam episode sejarah
5.      beberapa kombinasi dari hal-hal tersebut
Fenomena keluarga dan berbagai permasalahannya bisa dikaji dari berbagai perspektif teori. Dalam buku Family Theories karya James M. White dan David M.Klein disebutkan ada beberapa kerangka kerja teori yang bisa dijadikan alat analisis fenomena keluarga antara lain; teori pertukaran, teori interaksi simbolik, teori perkembangan keluarga, teori sistem, teori konflik dan teori ekologi.
Tulisan ini hendak melihat peran perempuan dalam perilaku kesehatan keluarga berbasis lingkungan dengan menggunakan kerangka kerja ekologi. Dalam keranngka kerja ekologi, konsep-konsep seperti ekosistem, adaptasi akan digunakan untuk tulisan ini. Sementara asumsi kerangka kerja ekologi bahwa manusia tergantung pada lingkungannya untuk bisa makan, hidup dan berkehidupan akan mendasari tulisan ini.
            Hubungan manusia dan lingkungan sudah banyak dibahas terutama dalam kajian sosiologi lingkungan. Terdapat hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan. Setidaknya terdapat tiga pandangan tentang pola hubungan timbale balik tersebut antara lain: pertama dominasi lingkungan pada kehidupan manusia (Ibnu Khaldun, Montesque, Donald L. Hardisty). Konsekuensi pandangan ini maka perilaku manusia akan ditentukan dan dipengaruhi oleh alam (Comte, Simmel). Kedua, teori kemungkinan, yang meyakini lingkungan memiliki sifat relative (Kroeber). Pada saat tertentu lingkungan bisa menjelaskan kecocokan dengan budaya tertentu dan bisa jadi tidak bisa menjelaskann budaya yang lain.   Ketiga teori ekologi budaya (Julian H Steward) yang melihat bahwa lingkungan dan budaya tidak dapat dipisahkan tetapi menjadi campuran yang berproses melalui dialektika. Keduanya memilki peran besar dan saling mempengaruhi (Susilo; 2009).

D.    PEMBAHASAN
Memahami peran perempuan dalam suatu lingkungan senantiasa berkaitan dengan bagaimana perilaku mereka berkaitan dengan alam/lingkungan. Karenanya tulisan ini sengaja memilih wilayah yang berbeda untuk menunjukan bagaimana penduduk suatu wilayah memiliki keterkaitan dengan lingkungan alamnya yang selanjutnya akan mempengaruhi perilaku kesehatan mereka.
            Masyarakat pesisir dicirikan sebagai masyarakat yang relative terbuka dibandingkan dengan masyarakat pedalaman. Masyarakat pesisir itu sendiri dapat didefinisikan sebagai  kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Mereka terdiri dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier factor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain. Argumentnasi bahwa masyarakat pesisir relative terbuka didukung pernyataan  bahwa nelayan menghadapi sumberdaya yang bersifat open acces dan beresiko tinggi. Hal tersebut menyebabkan masyarakat pesisir sepeti nelayan memiliki karakter yang tegas, keras, dan terbuka. Sementara itu karakteristik masyarakat sekitar hutan justru relative terisolasi.
Masyarakat pedalaman didefinisikan sebagai daerah yang berbukit hingga bergunung dengan permukaan daratan yang cenderung terjal dan berada di tempat yang tinggi.  Penduduk dataran tinggi sering di pandang sebagai kelompok masyarakat yang bodoh, yang mempertahankan cara hidup tradisional, serta hidup sebagai kaum tani.
Daerah dataran tinggi/pedalaman telah mengalami perubahan ekonomi, politik dan social sama halnya dengan daerah dataran rendah (sawah). Sebagian penduduk daerah dataran tinggi/pedalaman bermata pencaharian dalam berbagai kegiatan antara lain: ladang sistem bergilir, perkebunan, mengambil hasil hutan, pertanian lahan kering atau tegal, dan pekarangan (lahan kering yang permanen) dan sebagai pekerja upahan.
Seperti halnya di dataran rendah, dewasa ini juga banyak terjadi pembangunan jalan raya, intensifikasi tanaman pangan, penanaman modal, penggundulan hutan dan perpindahan manusia serta perubahan ide secara besar-besaran. Seiring dengan perkembangan ini muncul pula perubahan mendasar  dalam perekonomian, pemerintahan, dan moralitas yang berlangsung sejalan dengan tanggapan masyarakat pedesaan terhadap tekanan-tekanan baru dan sikap mereka untuk memanfaatkan peluang-peluang baru yang muncul (Li: 2002).
Masyarakat pesisir maupun pedalaman memiliki persoalan berkaitan dengan kesehatan masyarakatnya.  Kesehatan merupakan konsep umum yang dialami oleh seluruh manusia. Permasalahan kesehatan di Indonesia saat ini adalah masalah gizi utama yaitu kurang energy protein (KEP), Anemia Gizi Besi (AGB), Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) dan kurang vitamin A (KVA).  Untuk AGB usia anak balita prevalensinya cukup tinggi  dimana prevalensi tertinggi ditemukan pada anak usia di bawah dua tahun (baduta). AGB juga sangat umum dijumpai pada anak usia sekolah dan usia produktif dengan prevalensi cukup tinggi. Survey nasional 2001 menunjukkan prevalensi AGB pada Wanita Usia Subur Kawin (26,9%), WUS tidak kawin (24,5%), dan ibu hamil (40%) (Martianto; 2009).
Permasalahan kesehatan yang dialami Indonesia di atas sebetulnya merupakan gambaran dari kondisi kesehatan masyarakat pesisir dan juga sekitar pedalaman. Oleh karenanya peran perempuan menjadi cukup urgen untuk mengatasi persoalan tersebut. Hal ini didasarkan pada argument bahwa persoalan kesehatan keluarga  adalah tanggung jawab perempuan. Konstruksi social ini membawa konsekuensi; untuk mengatasi persoalan kesehatan maka peran perempuan harus ditingkatkan. Agar perempuan bisa berperan secara optimal, perempuan memerlukan pengetahuan kesehatan yang memadai, memiliki kesadaran akan pentingnya kesehatan diri, keluarga dan lingkungan dan yang lebih penting lagi adalah memiliki kekuasaan untuk melakukan peran kesehatan yang distatuskan kepadanya.
Seringkali masalah yang dihadapi perempuan pada masyarakat pesisir dan pedalaman adalah pengetahuan yang rendah karena tingkat pendidikan yang rendah. Bagaimana bisa memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan sementara pendidikan mereka sangat rendah bahkan banyak yang tidak tamat SD. Kondisi ini sangat berkaitan dengan kekuasaan perempuan atas diri sendiri dan atas pelaksanaan peran yang dibebankan kepadanya merawat seluruh anggota keluarganya. Yang terjadi selama ini di bidang kesehatan, dalam banyak kasus perempuan tidak bisa secara bebas menentukan keputusan dalam berperilaku kesehatan. Umumnya mereka meminta pertimbangan suami dan pada akhirnya pertimbangan suami menjadi keputusan terakhir apakan sebuah tindakan itu dilakukan atau tidak.
Perilaku kesehatan meliputi perilaku sehat dan perilaku sakit. Perilaku sehat adalah perilaku untuk upaya mencegah datangnya penyakit, sementara perilaku sakit adalah perilaku untuk mengobati penyakit dan sakit. Peran perempuan dalam perilaku pencegahan penyakit bisa dilakukan antara lain; menyediakan makanan untuk anggota keluarga, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, mencuci baju, pengelolaan air bersih, dan kegiatan pencegahan penyakit lainnya. Perilaku sakit yang dilakukan perempuan dalam keluarga antara lain; menyediakan obat di rumah, membelikan obat ke warung, membuat ramuan tradisional tertentu, melakukan tindakan penanganan pertama ketika anggota keluarga mengalami sakit.
Persoalannya adalah perilaku kesehatan keluarga tergantung pada konteks masyarakat tertentu. Konteks masyarakat pesisir berbeda dengan konteks masyarakat pedalaman. Kondisi lingkungan/ekologi mempengaruhi perilaku masyarakat begitu pula sebaliknya. Hubungan timbal balik saling mempengaruhi bisa dijelaskan dengan teori ekologi budaya yang menyatakan bahwa bahwa lingkungan dan budaya tidak dapat dipisahkan tetapi menjadi campuran yang berproses melalui dialektika. Keduanya memiliki peran besar dan saling mempengaruhi.
Peran perempuan dalam perilaku kesehatan keluarga di pedesaan pesisir dan pedalaman dapat dilihat pada table berikut;

Jenis perilaku
Peran perempuan dalam keluarga di pesisir
Peran perempuan dalam keluarga di pedalaman
Perilaku sehat
Menyediakan makanan untuk keluarga: memasak, mengantarkan makanan ke pantai, membekali nelayan yang melaut, mengatur menu makan disesuaikan dengan kondisi keuangan. Pengelolaan air bersih
Mencuci baju anggota keluarga, mencuci piring, membersihkan rumah. Jika musim hujan menanam padi di lahan yang bisa ditanami untuk persediaan pangan keluarga.
Menyediakan makanan untuk keluarga: mencari kayu bakar, mengambil air bersih, menyediakan makanan untuk anggota keluarga, membekali suami untuk ke hutan, mencari sayur-mayur di hutan/ladang.
Mencuci baju, piring membersihkan rumah dan lingkungan, memelihara ternak untuk dikonsumsi, menanam tanaman untuk persediaan pangan keluarga di pekarangan rumah.
Perilaku sakit
Menyediakan obat dirumah.
Membelikan obat warung bagi anggota keluarga yang sakit.
Membuatkan ramuan tradisional.
Mengantarkan si sakit ke bidan atau orang pintar.
Melakukan tindakan pertama pertolongan bagi si sakit seperti mengompres, mengoles dengan minyak angin dll
Mengambil daunan di hutan untuk obat yang sakit, Membelikan obat warung bagi anggota keluarga yang sakit. Menyediakan obat dirumah.
Membuatkan ramuan tradisional.
Mengantarkan si sakit ke bidan atau orang pintar.
Melakukan tindakan pertama pertolongan bagi si sakit seperti mengompres, mengoles dengan minyak angin dll


Pengetahuan tentang kesehatan yang dimiliki perempuan bisa didapatkan dari turun temurun (berasal dari local knowledge/indegineous knowledge) sebagai sebuah konstruksi social  atas peran yang harus dimainkannya. Misalnya sebagai perempuan akan disosialisasi tentang cara merawat dan mengasuh adiknya, jenis obat-obatan tradisional turun temurun dikenalkan, serta praktik-praktik perawatan kesehatan lainnya.
Di sisi lain, secara structural perempuan tampaknya menjadi obyek menarik bagi program kesehatan. Banyak kegiatan mengundang dan menghadirkan perempuan untuk diberi pengetahuan/penyuluhan kesehatan. Usaha ini tidak salah tetapi yang perlu difahami bahwa dalam struktur social yang patriarkhi pengambil keputusan di tingkat keluarga adalah suami. Jika yang mendapat penyuluhan perempuan suami tidak maka bisa jadi keputusan akhirnya berseberangan dengan pengetahuan yang didapat perempuan.
Perbedaan peran perempuan dalam perilaku kesehatan keluarga di kawasan pesisir dan pedalaman terutama bisa difahami dari aspek jenis penyakit yang dihadapi dan tingkat mobilitas perempuan. Sementara dari aspek pendidikan dan perilaku reproduksi kedua wilayah ini relative sama. Yaitu tingkat pendidikan yang relative rendah dan masih dijumpainya tingkat AKI yang tinggi. Berikut ini perbedaan peran perempuan pesisir dan di pedalaman;





Variable pembeda
Masyarakat pesisir
Masyarakat sekitar hutan
Dampaknya terhadap peran perempuan dalam keluarga
Tingkat mobilitas perempuan
Relative tinggi; banyak mencari kerja ke kota atau luar negeri karena relative terbuka terhadap perubahan
Relative terisolir: mobilitas relative rendah. Daya dukung lingkungan masih memungkinkan untuk subsisten
Di kawasan pesisir struktur penduduk laki-laki lebih banyak karena pekerjaan nelayan dilakukan laki-laki sementara yang bermigrasi kaum perempuan, peran perempuan dalam keluarga digantikan oleh suami atau keluarga luasnya. Sementara peran perempuan dalam keluarga di pedalaman relative stabil
Variasi jenis penyakit yang dialami perempuan dan keluarga
Jenis penyakit lebih bervariasi dan jenis penyakit baru mudah terjangkit karena persentuhan dunia luar relative tinggi; pada banyak kasus HIV AIDs di pesisir lebih tinggi
Jenis penyakit relative tetap yang menyangkut penyakit berkaitan dengan lingkungan hutan seperti malaria, rabies dll
Peran perempuan pesisir lebih dinamis karena dihadapkan pada penyakit lama dan  baru. Peran perempuan pedalaman relative stabil karena jenis penyakit yang dihadapi relative sama


            Kondisi ekologi ikut mempengaruhi peran perempuan dalam perilaku kesehatan keluarga. Pada masyarakat pesisir yang relative terbuka maka jenis penyakit juga lebih banyak dan bervariasi. Selain itu nilai-nilai tradisional dalam hal penyembuhan penyakit juga masih dianut pada masyarakat pesisir misalnya untuk penyembuhan penyakit tertentu maka bisa disembuhkan dengan cara mandi di laut/pantai pada hari tertentu, memberikan sesajen ke laut dan mempercayai orang pintar, atau yang dituakan untuk penyembuhan penyakit.  Proses ini merupakan adaptasi keluarga pesisir terhadap lingkungan mereka yang secara turun temurun menjadi teman hidup manusia pesisir.
            Kondisi ekologi pedalaman yang dekat dengan hutan/ladang, mempengaruhi peran perempuan dalam perilaku kesehatan keluarga antara lain mereka memanfaatkan tanaman hutan untuk penyembuhan penyakit tertentu, menanam jenis tumbuhan tertentu yang bisa menyembuhkan di pekarangan, memanfaatkan untuk dimasak/dikonsumsi untuk menjaga kesehatan badan dan lain sebagainya. Tidak jarang juga penyembuhan penyakit dilakukan dengan memberikan sesaji pada pohon besar yang dianggap angker di desa mereka. Mereka beranggapan penyakit terjadi karena makhluk halus yang ada di pohon tersebut. Semua yang dilakukan perempuan untuk mencegah penyakit dan mengobati penyakit merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan mereka.
            Seiring perkembangan masyarakat dan semakin terbuka akses dengan dunia luar baik masyarakat pesisir maupun pedalaman diintervensi oleh kebijakan kesehatan seperti adanya posyandu dan pengobatan modern. Mereka mau tak mau juga mengadopsinya dengan tetap menggunakan pengobatan tradisional yang turun temurun. Seiring waktu persentuhan dengan pengobatan modern ini mereduksi kebiasaaan dan pengetahuan local untuk pencegahan dan pengobatan penyakit. Hal ini menunjukkan masyarakat melakukan adaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran dalam mencegah dan menangani penyakit.
            Dari uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat pesisir dan pedalaman selalu beradaptasi terhadap lingkungan mereka baik fisik maupun non fisik. Lingkungan fisik terkait dengan kondisi geografis dan non fisik berhubungan dengan pengetahuan-pengetahuan yang mereka dapat baik turun temurun maupun pengetahuan baru yang dikenalkan pemerintah dalam mencegah dan mengobati penyakit. Adaptasi ekologi ini juga membawa pada adaptasi peran perempuan dalam perilaku keluarga.

E.     PENUTUP
Memahami peran perempuan dalam perilaku kesehatan keluarga tidak bisa lepas dari pengetahuan dan kekuasaan perempuan di bidang kesehatan. Unsur lokal berupa pengetahuan local dan intervensi kebijakan Negara memberi kontribusi dalam peran perempuan dalam perilaku kesehatan keluarga. Berbagai unsure tersebut memberi konsekuensi positif  bagi pengetahuan perempuan untuk menjadi sadar akan pentingnya kesehatan. Namun pada tataran institusi keluarga pengetahuan tersebut berhadapan dengan proses pengambilan keputusan yang terletak pada suami.
Peran perempuan dalam perilaku kesehatan baik pada masyarakat pesisir maupun pedalaman berhubungan dengan kondisi ekologi yang melingkupinya. Mereka selalu beradaptasi terhadap lingkungan mereka baik fisik maupun non fisik. Lingkungan fisik terkait dengan kondisi geografis dan non fisik berhubungan dengan pengetahuan-pengetahuan yang mereka dapat baik turun temurun maupun pengetahuan baru yang dikenalkan pemerintah dalam mencegah dan mengobati penyakit. Adaptasi ekologi ini juga membawa pada adaptasi peran perempuan dalam perilaku keluarga.


DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Irwan, 2001. Seks, Gender dan Reproduksi kekuasaan, Yogyakarta: Tarawang  
Press
Blood, O. J, 1972. The Family. New York; The FreePress
 Goode, W. J,  2007. Sosiologi Keluarga, Jakarta: Bumi Aksara
Gardiner, O. mailing dkk. 1996. Perempuan Indonesia Dulu dan Kini. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ihromi, dkk. 1991. Kisah Kehidupan wanita untuk Mempertahankan Kelestarian Ekonomi Rumah tangga, Jakarta: Yayasan Ilmu-ilmu Sosial.
Li, Tania. Murray. 2002. Proses Transformasi Daerah Pedalaman di Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor
Shiva, Vandana. 1997. Bebas dari Pembangunan; Perempuan, Ekologi dan Perjuangan Hidup di India. Jakarta: Yayasan Obor
Susilo, D.Rachmad. 2009. Sosiologi Lingkungan, Jakarta: Rajawali Pers.
           Vitalaya, Aida, 2010. Pemberdayaan Perempuan dari masa ke masa, Bogor: IPB Pres
White.M . James dan Klein, D.M. 1996. Family Theories. UnitedStated: Sage
Publications
Zamroni, 1992. Pengantar Pengembangan Teori Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana

No comments:

Post a Comment

Post a Comment